<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
	
	<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Memo</title>
		<link>http://memo.pudakonline.com</link>
		<description>Remember When They Forget It</description>
		<generator>gelato CMS</generator>
		<image>
			<url>http://memo.pudakonline.com/images/information.png</url>
			<title>Remember When They Forget It</title>
			<link>http://memo.pudakonline.com</link>
		</image>



			<item>
				<title>&quot;	Karena engkaulah nduk, hikayat ini kembali aku tuturkan, karena tidak semua dusta akan menjadi dosa, tak setiap tanya butuh jawab dan tak setiap tangis adalah derita. Wajibnya kau tahu nduk, ini hidup yang sebisa mungkin dirayakan, sedapat mungkin disyukuri, meski hidup adalah serentetan ketidak-pastian dalam setiap lipatan usia. Happy anniversary nduk!, aku berdoa untuk setiap subuh dalam hidupmu&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Karena engkaulah nduk, hikayat ini kembali aku tuturkan, karena tidak semua dusta akan menjadi dosa, tak setiap tanya butuh jawab dan tak setiap tangis adalah derita. Wajibnya kau tahu nduk, ini hidup yang sebisa mungkin dirayakan, sedapat mungkin disyukuri, meski hidup adalah serentetan ketidak-pastian dalam setiap lipatan usia. Happy anniversary nduk!, aku berdoa untuk setiap subuh dalam hidupmu</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/98/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/98/</guid>				
				<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 00:25:22 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Imajinasi saya barangkali terlalu berlebihan, saya tahu, membayangkan dua Korea bertemu dalam final piala dunia 2010 lebih terdengar sebagai sebuah kutukan, tapi bolehlah saya berpanjang angan, tak soal siapa yang menang dan yang kalah, saya sedikit risau, akankah sepakbola menjadi awal malapetaka dunia?, aih&amp;#8230; suli&amp;#8230;t membayangkan!, El futbol a Sol y Sombra, barangkali akan menjadi sebuah buku serial yang panjang&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Imajinasi saya barangkali terlalu berlebihan, saya tahu, membayangkan dua Korea bertemu dalam final piala dunia 2010 lebih terdengar sebagai sebuah kutukan, tapi bolehlah saya berpanjang angan, tak soal siapa yang menang dan yang kalah, saya sedikit risau, akankah sepakbola menjadi awal malapetaka dunia?, aih&#8230; suli&#8230;t membayangkan!, El futbol a Sol y Sombra, barangkali akan menjadi sebuah buku serial yang panjang</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/97/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/97/</guid>				
				<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 20:36:56 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Tak sekali dua kita saling pandang dalam diam nduk!, \&amp;#8220;karena kita bising dengan suara-suara diluar, kita bising dengan gosip murahan, dan terkadang kita juga terlalu bising dengan suara kita sendiri\&amp;#8221;, begitu katamu suatu ketika, \&amp;#8220;karena dalam diam, aku mendengar detak jantung, kegundahan yang penuh, kegelisahan yang&amp;#8230; sempurna, dan juga segenap hasrat yang tertahankan\&amp;#8221;, demikian kau melengkapi kalimatmu ketika itu&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Tak sekali dua kita saling pandang dalam diam nduk!, \&#8220;karena kita bising dengan suara-suara diluar, kita bising dengan gosip murahan, dan terkadang kita juga terlalu bising dengan suara kita sendiri\&#8221;, begitu katamu suatu ketika, \&#8220;karena dalam diam, aku mendengar detak jantung, kegundahan yang penuh, kegelisahan yang&#8230; sempurna, dan juga segenap hasrat yang tertahankan\&#8221;, demikian kau melengkapi kalimatmu ketika itu</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/96/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/96/</guid>				
				<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 20:35:21 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Maka, politik yang tidak mendatangi mereka dengan tangan keadilan dapat dikatakan hanya politik para petualang bayaran. Tidak lebih, dan tidak kurang&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Maka, politik yang tidak mendatangi mereka dengan tangan keadilan dapat dikatakan hanya politik para petualang bayaran. Tidak lebih, dan tidak kurang</p>"<br /><br /> - <em>Karlina Supelli</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/94/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/94/</guid>				
				<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 00:24:24 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Setiap peringatan hari buruh, saya mengingat sebuah nama, ia adalah pertanda, bahwa perlawan kaum proletar terhadap kapitalis yang lentur itu adalah sebuah ke-sia-sia-an, perlawan tak lagi nampak sebagai perlawanan, ia mirip sebuah tragedi, dan tragedi adalah sebuah kisah sedih. Tragedi butuh darah sekaligus nyawa untuk menambah kisah sedihnya, Marsinah, nama yang mengingatkan, bahwa kemakmuran itu masih memihak&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Setiap peringatan hari buruh, saya mengingat sebuah nama, ia adalah pertanda, bahwa perlawan kaum proletar terhadap kapitalis yang lentur itu adalah sebuah ke-sia-sia-an, perlawan tak lagi nampak sebagai perlawanan, ia mirip sebuah tragedi, dan tragedi adalah sebuah kisah sedih. Tragedi butuh darah sekaligus nyawa untuk menambah kisah sedihnya, Marsinah, nama yang mengingatkan, bahwa kemakmuran itu masih memihak</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/93/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/93/</guid>				
				<pubDate>Mon, 03 May 2010 22:10:30 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	: “Hujan menampakkan tanda-tanda bakal menjauh nduk!, tak ada kesetiaan hujan pada musim, dan kita mesti menyimpan kerinduan pada hujan sampai musim depan, hujan yang seringkali datang dan pergi tergesa-gesa, mungkin ia membawa pesan dari surga, tentang kebahagiaan atau malah kepedihan hidup yang kian hitam dan berjelaga, kita merindu hujan nduk!, yang terkadang malu-malu membawa kabar tentang hidup yang mengejutkan”&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>: “Hujan menampakkan tanda-tanda bakal menjauh nduk!, tak ada kesetiaan hujan pada musim, dan kita mesti menyimpan kerinduan pada hujan sampai musim depan, hujan yang seringkali datang dan pergi tergesa-gesa, mungkin ia membawa pesan dari surga, tentang kebahagiaan atau malah kepedihan hidup yang kian hitam dan berjelaga, kita merindu hujan nduk!, yang terkadang malu-malu membawa kabar tentang hidup yang mengejutkan”</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/91/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/91/</guid>				
				<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 22:08:02 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Masihkah adap kesantunan itu diajarkan ditengah derasnya modernitas jaman, bukankah ia telah larut ketika kisah \&amp;#8220;Kajian sejarah empat puluh tujuh hamba\&amp;#8221; itu kembali di narasikan ulang, dari seorang tokoh nista paling aib yang mencoba dikukuhkan dalam sejarah, laki-laki jepang yang runyam bernama Kôtsuké no Suké, guru tata krama yang kehilangan unggah-ungguh lengkap dengan kekurang-ajaran, saya mengabadikan ulang&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Masihkah adap kesantunan itu diajarkan ditengah derasnya modernitas jaman, bukankah ia telah larut ketika kisah \&#8220;Kajian sejarah empat puluh tujuh hamba\&#8221; itu kembali di narasikan ulang, dari seorang tokoh nista paling aib yang mencoba dikukuhkan dalam sejarah, laki-laki jepang yang runyam bernama Kôtsuké no Suké, guru tata krama yang kehilangan unggah-ungguh lengkap dengan kekurang-ajaran, saya mengabadikan ulang</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/90/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/90/</guid>				
				<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 23:26:25 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah</p>"<br /><br /> - <em>José Saramago</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/89/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/89/</guid>				
				<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 22:22:12 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>No Title</title>
				<description><![CDATA[	<p>Bertahun-tahun kuraut kata hingga langsing dan runcing.</p>

	<p>Bertahun-tahun kugurat halaman buku, mabuk dan mengigau sepanjang waktu.</p>

	<p>Bertahun-tahun mengitari panggung, menari seperti kurcaci lupa diri. Mewarnai gugusan peristiwa dengan sejumlah cinta dan lara. Bertahun-tahun membangun jembatan, antara satu bukit dan bukit berikutnya, dengan kata- kata.</p>

	<p>Bertahun-tahun jumawa di atas kuda kata-kata, berlari kencang tanpa menoleh lagi.</p>

	<p>Lalu, pada sebuah tarikh muda, engkau lahir dari sunyi perigi bermata air kata, jernih dan bercahaya. Lalu engkau bangkit dari abu unggun yang menyala semalam suntuk membakar kayu kata-kata. Mata beningmu membaca semua kata dari setiap benang sari dan udara yang mempersinggahkan pada putik, menjadikannya tunas buah. Lalu engkau memeras perih kata dari tangkai zaitun, menyulingnya menjadi tetes-tetes harum dalam bejana. Tak ada jejak pada kata-kata dari tempatmu pernah berguru.</p>

	<p>Ingin kuhapus kata dari seluruh mantra yang melekat di mulutku.</p>

	<p>Ingin kuhapus kata dari jubah dan terompah yang pernah kuajak mengembara.</p>

	<p>Ingin kuhapus kata dari mimpi dan nyanyian yang bertahun-tahun memenuhi tidurku.</p>

	<p>Ingin kembali hening, menghilang dari suara, bersembunyi di balik cadar riuh rendah kata-kata.</p>

	<p>Pura-pura tak pernah mengenal kata yang bertahun-tahun meriwayatkan rahasiaku sebagai seorang kelana.</p>

	<p>Dengan sepasang mata, kau berkata-kata. Mata sebening kaca, kaca sebening kata.</p>

	<p>Dalam matamu, kata selalu berkaca. Mencari bayang-bayang simetri, sudut tersembunyi, runcing dan bening.</p>

	<p>Pendar cahaya matamu menyusun kata-kata yang berkaca-kaca. Kata-kata yang tidak menaruh dendam pada kaca, tempat mata memandang. Kaca yang senantiasa memantulkan kata-kata ke dalam mata.</p>

	<p>Aku percaya: hanya dari bibir dan lesung pipimu, tersenyum setiap kata</p>

	<p>Dan matamu adalah genangan kata-kata sebening kaca</p>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/88/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/88/</guid>				
				<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 17:34:15 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Penyair buruk (belum matang) melakukan peniruan, penyair baik (matang) melakukan pencurian.” Penulis yang baik mencuri gaya dan berbagai strategi literer dari penulis-penulis lain yang ia kagumi dan mengolahnya menjadi miliknya sendiri. Dan pencuri yang piawai tidak akan pernah memamerkan barang curiannya&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Penyair buruk (belum matang) melakukan peniruan, penyair baik (matang) melakukan pencurian.” Penulis yang baik mencuri gaya dan berbagai strategi literer dari penulis-penulis lain yang ia kagumi dan mengolahnya menjadi miliknya sendiri. Dan pencuri yang piawai tidak akan pernah memamerkan barang curiannya</p>"<br /><br /> - <em>T.S. Eliot</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/87/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/87/</guid>				
				<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 17:33:52 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	\&amp;#8220;Kapitalisme!\&amp;#8221;, kata Marx dalam Das Kapital, \&amp;#8221; Kapitalisme-lah yang memperlakukan pekerja sebagai komoditas dan bahan mentah, buruh itu seperti perkakas, agar ia produktif mengeruk uang, maka buruh perlu dikuasai dan dieksploitasi\&amp;#8221;, Marx memberikan tanda yang diabaikan, dan seperti pertanda yang lain yang dianggap liyan menurut teori dissapative structure-nya Prigogine, ia halal untuk dimusnahkan&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>\&#8220;Kapitalisme!\&#8221;, kata Marx dalam Das Kapital, \&#8221; Kapitalisme-lah yang memperlakukan pekerja sebagai komoditas dan bahan mentah, buruh itu seperti perkakas, agar ia produktif mengeruk uang, maka buruh perlu dikuasai dan dieksploitasi\&#8221;, Marx memberikan tanda yang diabaikan, dan seperti pertanda yang lain yang dianggap liyan menurut teori dissapative structure-nya Prigogine, ia halal untuk dimusnahkan</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/86/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/86/</guid>				
				<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 09:29:00 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Baiklah Tuan!, sejarah negeri kami memang ditulis dari kisah perselingkuhan raja-raja, rintihan paksa para selir muda, dan klenik pusaka. Demikianlah Monsieur!, sejarah negeri kami memang diisi oleh keserakahan, ambisi dan warna-warni sakit hati, hiruk pikuk aib penguasa itu tabu untuk diungkap. Kami membaca sejarah negeri kami sendiri dalam bau apak keringat dan rasa mual yang menggairahkan&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Baiklah Tuan!, sejarah negeri kami memang ditulis dari kisah perselingkuhan raja-raja, rintihan paksa para selir muda, dan klenik pusaka. Demikianlah Monsieur!, sejarah negeri kami memang diisi oleh keserakahan, ambisi dan warna-warni sakit hati, hiruk pikuk aib penguasa itu tabu untuk diungkap. Kami membaca sejarah negeri kami sendiri dalam bau apak keringat dan rasa mual yang menggairahkan</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/85/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/85/</guid>				
				<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 09:28:03 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Acapkali kita dibuat bahagia oleh hal-hal yang bagi mereka sepele dan sederhana nduk!, Menikmati hujan jatuh sore hari dari balik kaca teras, berbatang rokok dengan lingkaran kuning disepertiga bagiannya, gorengan pisang bikinanmu yang sebenarnya terlalu gosong itu, secangkir kopi tubruk, bukan coffee latte atau Macc&amp;#8230;hiato d\&amp;#8216;asti di kafe Tazza D\&amp;#8216;oro, begitulah kita mengakrabi kesederhanaan dan berdamai dengan hidup&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Acapkali kita dibuat bahagia oleh hal-hal yang bagi mereka sepele dan sederhana nduk!, Menikmati hujan jatuh sore hari dari balik kaca teras, berbatang rokok dengan lingkaran kuning disepertiga bagiannya, gorengan pisang bikinanmu yang sebenarnya terlalu gosong itu, secangkir kopi tubruk, bukan coffee latte atau Macc&#8230;hiato d\&#8216;asti di kafe Tazza D\&#8216;oro, begitulah kita mengakrabi kesederhanaan dan berdamai dengan hidup</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/84/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/84/</guid>				
				<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 11:30:34 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Saya tidak pernah menjadi orang beriman, tetapi setelah melihat orang-orang Katolik Ceska dikejar-kejar semasa teror rezim Stalin, saya merasakan solidaritas mendalam terhadap mereka. Apa yang memisahkan kami, keyakinan pada Tuhan, hanya menempati urutan kedua ketimbang apa yang menyatukan kami. Di Praha, mereka menggantung kaum sosialis dan pastor. Maka, lahirlah persaudaraan tiang gantungan&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Saya tidak pernah menjadi orang beriman, tetapi setelah melihat orang-orang Katolik Ceska dikejar-kejar semasa teror rezim Stalin, saya merasakan solidaritas mendalam terhadap mereka. Apa yang memisahkan kami, keyakinan pada Tuhan, hanya menempati urutan kedua ketimbang apa yang menyatukan kami. Di Praha, mereka menggantung kaum sosialis dan pastor. Maka, lahirlah persaudaraan tiang gantungan</p>"<br /><br /> - <em>Milan Kundera</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/83/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/83/</guid>				
				<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:51:44 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Di negeri tempat kita berpijak ini, ketika masa tak segera menemukan angka, La Galigo telah lahir, sebuah epik 300.000 baris dengan lakon yang rumit, terpanjang melebihi homerus atau epos Mahabrata yang hanya 200.000 baris, Indonesia dulu sekali telah melahirkan sebuah metrum sastra 6000 halaman yang mencengangkan&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Di negeri tempat kita berpijak ini, ketika masa tak segera menemukan angka, La Galigo telah lahir, sebuah epik 300.000 baris dengan lakon yang rumit, terpanjang melebihi homerus atau epos Mahabrata yang hanya 200.000 baris, Indonesia dulu sekali telah melahirkan sebuah metrum sastra 6000 halaman yang mencengangkan</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/82/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/82/</guid>				
				<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 22:40:54 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Diam tak selamanya emas\&amp;#8221;, begitu kata Mario Teguh suatu ketika, tapi ia lupa, ia tak sungguh merenungi kalimat GM yang bertenaga itu, \&amp;#8220;Agama pada mulanya adalah diam, Budha di bawah pohon bodhi gaya, Musa di gurun sinai, dan Muhammad di gua Hira\&amp;#8217;\&amp;#8221;, ough&amp;#8230; Mario!, kalimatmu tak lagi teguh, dan salam-mu tak lagi super&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Diam tak selamanya emas\&#8221;, begitu kata Mario Teguh suatu ketika, tapi ia lupa, ia tak sungguh merenungi kalimat GM yang bertenaga itu, \&#8220;Agama pada mulanya adalah diam, Budha di bawah pohon bodhi gaya, Musa di gurun sinai, dan Muhammad di gua Hira\&#8217;\&#8221;, ough&#8230; Mario!, kalimatmu tak lagi teguh, dan salam-mu tak lagi super</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/81/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/81/</guid>				
				<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 22:40:21 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Adakah cinta dan sex itu telah menyelamatkan dunia?, mari mengintip begawan Wisrawa dan Sukesi dalam epos mahabarata, mereka bercinta penuh nafsu liar di sebuah taman sunyi penuh bunga, Sst.. jangan berisik!, karena mereka adalah Batara Guru dan istrinya dewi Uma, bercinta meminjam raga sekaligus kelamin, rahasia sastra Jendra memang tak terungkap, tapi setidaknya kita (para pengintip) telah mengungkap percintaan para dewa&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Adakah cinta dan sex itu telah menyelamatkan dunia?, mari mengintip begawan Wisrawa dan Sukesi dalam epos mahabarata, mereka bercinta penuh nafsu liar di sebuah taman sunyi penuh bunga, Sst.. jangan berisik!, karena mereka adalah Batara Guru dan istrinya dewi Uma, bercinta meminjam raga sekaligus kelamin, rahasia sastra Jendra memang tak terungkap, tapi setidaknya kita (para pengintip) telah mengungkap percintaan para dewa</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/80/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/80/</guid>				
				<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 22:39:06 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Pada mulanya facebook adalah buku muka, wajah bersitatap dengan wajah. Jejaring sosial ini mencoba menghadirkan pertemanan masa silam, mengumpulkan puak yang berserakan, menembus ruang dan jarak sekian kilometer hanya dengan seberapa lama netbookmu itu dinyalakan,dunia hanya menjadi seberapa inci layar,tapi siapa yan&amp;#8230;g menjamin selamanya ia akan berada dalam garis lurus yang meneguhkan,pada akhirnya ia berubah arah&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Pada mulanya facebook adalah buku muka, wajah bersitatap dengan wajah. Jejaring sosial ini mencoba menghadirkan pertemanan masa silam, mengumpulkan puak yang berserakan, menembus ruang dan jarak sekian kilometer hanya dengan seberapa lama netbookmu itu dinyalakan,dunia hanya menjadi seberapa inci layar,tapi siapa yan&#8230;g menjamin selamanya ia akan berada dalam garis lurus yang meneguhkan,pada akhirnya ia berubah arah</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/79/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/79/</guid>				
				<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 19:21:43 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>Amarah</title>
				<description><![CDATA[	<p>Dalam aroma tembakau yang merekah ini aku bersumpah untuk terus memelihara amarah, bersekutu dengan yang lemah, terus mencurigai kekuasaan dan memajang kembali “kata-kata” dalam pigura kemanusiaan. Sebab kata-kata akan kembali memperoleh kehormatannya bila kita semua percaya bahwa; kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.</p>

	<p>esito</p>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/78/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/78/</guid>				
				<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 21:55:38 +0000</pubDate>				
			</item>


			<item>
				<title>&quot;	Di negeri tempat kita berpijak ini, ketika masa tak segera menemukan angka, La Galigo telah lahir, sebuah epik 300.000 baris dengan lakon yang rumit, terpanjang melebihi homerus atau epos Mahabrata yang hanya 200.000 baris, Indonesia dulu sekali telah melahirkan sebuah metrum sastra 6000 halaman yang mencengangkan&quot;</title>
				<description><![CDATA["	<p>Di negeri tempat kita berpijak ini, ketika masa tak segera menemukan angka, La Galigo telah lahir, sebuah epik 300.000 baris dengan lakon yang rumit, terpanjang melebihi homerus atau epos Mahabrata yang hanya 200.000 baris, Indonesia dulu sekali telah melahirkan sebuah metrum sastra 6000 halaman yang mencengangkan</p>"<br /><br /> - <em>pudakonline</em>]]></description>
				<link>http://memo.pudakonline.com/post/77/</link>
				<guid isPermaLink="true">http://memo.pudakonline.com/post/77/</guid>				
				<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 21:55:10 +0000</pubDate>				
			</item>

	</channel>
</rss>