Sajak Liar
Kami telah mual bau bangkai kata-kata memoles bingkai-bingkai tua dari cermin omong kosong.
Kami mau: Jantung hidup darah merah dendang lantang pukulan nadi yang menderas napas kian deras, hingga balapan dengan tanggapan otak dan hati, otak dan hati sendiri.
Kami benci keindahan kuda pingitan yang licin bulunya dan putih, hidup dari persediaan.
Kami ingin: kuda liar ditengah padang yang deras melepas mau hatinya biar tertarung, biar patah, biar mati, berani menjuang nasib, merebut kemujuran dalam sanggup bangkit kembali dengan tenaga sendiri untuk turun-naik gunung… berlari masuk keluar lembah… berdiri mendesak ke cakrawala dengan kemauan yang mendidih haus baru, lapar baru, bebas memilih hidup atau mati, mana suka: Jiwa pelopor.
Taslim Ali
(kutipan dari kata pengantar Mereka Yang Dilumpuhkan, 1951)
