“di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta
Note : Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah
“Aku menemukan pena dan duniaku”
Kutipan dari : Menemukan Negeri Sunyi, Cecep Syamsul Hari
Kutebarkan remah roti
Di taman kota Amsterdam yang bersalju
Beribu ribu burung merpati
Berbondong bondong menyerbu
Kutebarkan remah makanan
Di taman kota Jakarta terik siang
Beribu gelandangan dan anak jalanan
Serempak datang menerjang
~ Agus R Sarjono ~
Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama
Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalisnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya?
~ Soekarno ~
“... orang Papua tahu dan mengalami bahwa kolonisasi di bawah kekuasaan Indonesia jauh lebih kejam, lebih biadab, dan tak berperikemanusiaan ketimbang perlakuan pada masa kolonisasi Belanda terhadap orang Papua”
— Agus A. Alua dari Majelis Rakyat Papua dalam bukunya Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan
“Untuk itu, dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, memuaskan rasa keadilan seluruh komponen bangsa, perlu upaya perubahan, menjebol dan membangun, kalau perlu banting setir, itu artinya harus berjuang, harus berjuang dan harus berjuang” lagi-lagi, kata bung Karno.
Ini sepele, sekarang orang Indonesia datang ke Malaysia hanya untuk sekedar menjadi kuli dan dipukuli, bukan seperti dulu orang Indonesia datang kesana untuk mengajar, seperti: Sutan Takdir Alisyahbana, begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, Dr Ir Imaduddin bin Abdurahim, Umar Yunus dari IKIP Malang.
Vivere Pericoloso ( nyrempet-nyrempet bahaya)
Bung Karno berkata (17 Agustus 1964)
”Disana, diantara benua Asia dan benua Asutralia, diantara lautan teduh dan lautan Indonesia, hiduplah satu bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, namun akhirnya kembali menjadi satu kuli diantara bangsa-bangsa”