Soekarno dicuplik untuk menegaskan satu hal: di zaman yang makin kompleks dan penuh kompetisi yang tak kenal kompromi ini, sekolah dan ijazah sungguh tak bisa memberikan jaminan seratus persen bahwa hidup dan masa depan sudah bisa ditaklukkan
Note : Zen Rahmat Soegito, saya mengambilnya dari sini (http://www.erlangga.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=295&Itemid=92)
“Hanya satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku”
— Syair Rene de Clerque yang pernah dikutip Hatta dalam pleidoi berjudul “Indonesie Vriij”, yang dibacakannya di muka pengadilan Belanda di Den Haag
Sudahlah
Tak perlu kau menjajakan janji-janji
Taruh saja di sini atau di keranjang sampah juga boleh
Karena sungguh kami sudah sangat bosan
[...]
Preman dan gelandangan tersimpan rapi di lembar-lembar sejarah dunia ketiga
Di bawah langit yang sama orang-orang boleh bahagia dengan atau tanpa dasi
Pada sebuah pagi yang ramah dan syahdu
Tapi bukan di tanah airku
[...]
Bukan di Tanah Airku
Agus R Sarjono
Maka aku menjadi semakin mengerti waktu seorang teman mengatakan:
“Benar-benar aku jadi rugi dilahirkan sebagai orang Indonesia”
(Pramoedya Ananta Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dan Kenangan Buru oleh Rudolf Mrazek dari Nyanyi Sunyi Seorang Bisu)
Kenalkan, nama saya Rico de Coro, Keluarga Kecoak terhormat, bermartabat, hitam, kecil, jelek dan bau
~ Menyunting tanpa sepengetahuan Dee, dalam Rico de Coro ~
“Selamat tinggal politik memohon dan mengemis! Selamat tinggal politik mohon restu! Selamat tinggal politik menadahkan tangan!”
— Bung Hatta, dalam usia 26 tahun, dalam pidato pembelaannya di depan mahkamah Belanda di Den Haag, pada 9 Maret 1928