RSS

Memo

Remember When They Forget It
Jan 31
Permalink

Menatap Senja

menatap senja, demikian jingga. seperti kubisikkan di telingamu
tentang sebuah cerita di suatu ketika. seorang pecinta mencari
cinta, pada sebuah peta. tak ditemu jua, demikian letih berjelaga,
demikian sakit berderit- derit. tak ditemu.

gelisah meresah, melungkrah darah lelah. tatkala cemburu
memburu beradu. tak ditemu.

seperti kubisikkan di dadamu. seorang pecinta menyerah pasrah.
sebulir bening memapah gerah. pada suatu senja, pada sebuah
dekap, pada sebuah senyap. pada.

hingga, seusap tangan menyapa. papah resah dari bilik mata.
demikian cinta tiba selaksa. tanpa kata. tanpa.

di ujung senja, di sebalik tabir terbuka cahaya cinta. duhai! kiranya
telah ditemu rindu. cahaya di atas cahaya. demi Allah yang
merindu! demi Allah! demi.

menatap senja, demikian jingga. seperti lambai tertuju bagimu.

Kunthi Hastorini

Jan 26
Permalink

“Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiap-tiap yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu”

— Tan Malaka tentang Kapitalisme
Permalink

PBB?

Duduk sama rendah
Berdiri lain-lain tingginya

~ petatah petitih Taufik Ismail ~

Permalink

Perang

Kita memang, Homo Homini Lupus!
Ya, kita memang
Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya

Permalink

Fragmen Jakarta; dari Veteran sampai Juanda

Perjalanan ini tak biasa
Bagi laki-laki yang biasa saja
Seperti aku
Hidup selalu banyak kemungkinan dalam pilihan
Menapak di jalan yang berbeda
Lalu bertemu di terminal yang sma

Kau-ku sama-sama tak berdaya dan tak percaya
Bahwa takdir punya rencana lain untuk kita
Kita dipertemukan oleh ketidakmungkinan
Sebab kewajaran hanya ada dalam pikiran

Hidup dan kematian sama-sama gaibnya
Tapi Tuhan memberkati kita
Untuk meminjamkan tangannya
Merumuskan dan menentukan jalan
Di buku kita masing-masing

jakarta 2008

~ Kedung Dharma Romansha ~

Jan 22
Permalink

Telepon Aku Dong

Tuhan, telepon aku dong
Aku nggak ganti nomor kok

~ Abdul Mukhid ~

Permalink

Loket

Di loket aku bertanya
“Berapa harga tiket ke surga?”

satu dengan nol tak terhingga
di belakangnya

~ Abdul Mukhid ~

Jan 13
Permalink

Bangsa yang Kehilangan Rujukan Budaya

Dalam situasi bangsa yang sedang kehilangan rujukan budaya ini, saya mengimbau semua komponen bangsa yang masih siuman untuk berteriak lebih keras dan lantang lagi tetapi santun untuk mengingatkan pihak pemerintah dan DPR agar berhati-hati membuat keputusan penting. Salah-salah tingkah, akibat buruknya akan ditanggung oleh anak cucu kita di kemudian hari. Jangan-jangan yang tersisa buat mereka nanti hanyalah ampas Republik yang telah sangat merana dan telah kehilangan segala-galanya. Kritik seorang seniman santun Saini patut benar direnungkan

Republika, 1 Juli 2008

Jan 08
Permalink

Lumut

Dalam gang pikiranku bergumam
seperti kemarin saja
kini los yang dulu kami tempati
jadi bangunan berpagar tembok tinggi

aku lalui rumah yang dulu disewa Riyanto
buruh kawan sekerjaku
dimana kini dia sekeluarga

kampung ini tak memiliki tanah lapang lagi
tanah-tanah kosong sudah dibeli

dalam gang setengah gelap
setengah terang
aku nemu perumpamaan:
kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pinggir-pinggir selokan
di musim kemarau kering
diterjang banjir
tetap hidup

menurutmu sendiri
kita ini siapa?

8/2/91 – kampung kalangan solo

~ Wiji Thukul ~

Dec 31
Permalink

Rakyat Tak Mungkin Merdeka

Rendra,
Rakyat belum merdeka, katamu
itu bukan hanya kau yang tahu
para gelandangan dan lalat-lalat di bak sampah
para pengamen jalanan dan tikus-tikus di lorong pertokoan
para babu dan anjing-anjing penjaga di perumahan parlemen
juga bisa merasakan

Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga tahu itu sebab, rakyatmu memang tetap menjadi rakyat sejak dulu
Entah sudah berapa ribu politisi menawarkan keadilan dan kemakmuran
Entah sudah berapa juta janji dikobarkan dipanggung-panggung orasi politisi
tapi keadilan selalu terperosok ke dalam perut para politisi

Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga sangat tahu itu
Mana mungkin bisa merdeka,bila keadilan hanya menjadi tulisan dan puisi
Mana mungkin bisa merdeka, bila mereka hanya jadi tunggangan kesana-kemari
Mana mungkin rakyat bisa merdeka, bila kerakusan selalu menjadi nabi

Rakyat belum merdeka, katamu
Ya, aku juga sangat tahu itu
sebab, rakyatmu memang tak kan mungkin merdeka
sebab, tanah air ini hanya bagai penjara bagi mereka ***
solo, februari 2001
Sutrisno Budiharto

dari ceritanet.com