menatap senja, demikian jingga. seperti kubisikkan di telingamu
tentang sebuah cerita di suatu ketika. seorang pecinta mencari
cinta, pada sebuah peta. tak ditemu jua, demikian letih berjelaga,
demikian sakit berderit- derit. tak ditemu.
gelisah meresah, melungkrah darah lelah. tatkala cemburu
memburu beradu. tak ditemu.
seperti kubisikkan di dadamu. seorang pecinta menyerah pasrah.
sebulir bening memapah gerah. pada suatu senja, pada sebuah
dekap, pada sebuah senyap. pada.
hingga, seusap tangan menyapa. papah resah dari bilik mata.
demikian cinta tiba selaksa. tanpa kata. tanpa.
di ujung senja, di sebalik tabir terbuka cahaya cinta. duhai! kiranya
telah ditemu rindu. cahaya di atas cahaya. demi Allah yang
merindu! demi Allah! demi.
menatap senja, demikian jingga. seperti lambai tertuju bagimu.
Kunthi Hastorini
“Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiap-tiap yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu”
— Tan Malaka tentang Kapitalisme
Duduk sama rendah
Berdiri lain-lain tingginya
~ petatah petitih Taufik Ismail ~
Kita memang, Homo Homini Lupus!
Ya, kita memang
Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya
Perjalanan ini tak biasa
Bagi laki-laki yang biasa saja
Seperti aku
Hidup selalu banyak kemungkinan dalam pilihan
Menapak di jalan yang berbeda
Lalu bertemu di terminal yang sma
Kau-ku sama-sama tak berdaya dan tak percaya
Bahwa takdir punya rencana lain untuk kita
Kita dipertemukan oleh ketidakmungkinan
Sebab kewajaran hanya ada dalam pikiran
Hidup dan kematian sama-sama gaibnya
Tapi Tuhan memberkati kita
Untuk meminjamkan tangannya
Merumuskan dan menentukan jalan
Di buku kita masing-masing
jakarta 2008
~ Kedung Dharma Romansha ~
Tuhan, telepon aku dong
Aku nggak ganti nomor kok
~ Abdul Mukhid ~
Di loket aku bertanya
“Berapa harga tiket ke surga?”
satu dengan nol tak terhingga
di belakangnya
~ Abdul Mukhid ~
Dalam situasi bangsa yang sedang kehilangan rujukan budaya ini, saya mengimbau semua komponen bangsa yang masih siuman untuk berteriak lebih keras dan lantang lagi tetapi santun untuk mengingatkan pihak pemerintah dan DPR agar berhati-hati membuat keputusan penting. Salah-salah tingkah, akibat buruknya akan ditanggung oleh anak cucu kita di kemudian hari. Jangan-jangan yang tersisa buat mereka nanti hanyalah ampas Republik yang telah sangat merana dan telah kehilangan segala-galanya. Kritik seorang seniman santun Saini patut benar direnungkan
Republika, 1 Juli 2008
Dalam gang pikiranku bergumam
seperti kemarin saja
kini los yang dulu kami tempati
jadi bangunan berpagar tembok tinggi
aku lalui rumah yang dulu disewa Riyanto
buruh kawan sekerjaku
dimana kini dia sekeluarga
kampung ini tak memiliki tanah lapang lagi
tanah-tanah kosong sudah dibeli
dalam gang setengah gelap
setengah terang
aku nemu perumpamaan:
kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pinggir-pinggir selokan
di musim kemarau kering
diterjang banjir
tetap hidup
menurutmu sendiri
kita ini siapa?
8/2/91 – kampung kalangan solo
~ Wiji Thukul ~
Rendra,
Rakyat belum merdeka, katamu
itu bukan hanya kau yang tahu
para gelandangan dan lalat-lalat di bak sampah
para pengamen jalanan dan tikus-tikus di lorong pertokoan
para babu dan anjing-anjing penjaga di perumahan parlemen
juga bisa merasakan
Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga tahu itu sebab, rakyatmu memang tetap menjadi rakyat sejak dulu
Entah sudah berapa ribu politisi menawarkan keadilan dan kemakmuran
Entah sudah berapa juta janji dikobarkan dipanggung-panggung orasi politisi
tapi keadilan selalu terperosok ke dalam perut para politisi
Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga sangat tahu itu
Mana mungkin bisa merdeka,bila keadilan hanya menjadi tulisan dan puisi
Mana mungkin bisa merdeka, bila mereka hanya jadi tunggangan kesana-kemari
Mana mungkin rakyat bisa merdeka, bila kerakusan selalu menjadi nabi
Rakyat belum merdeka, katamu
Ya, aku juga sangat tahu itu
sebab, rakyatmu memang tak kan mungkin merdeka
sebab, tanah air ini hanya bagai penjara bagi mereka
***
solo, februari 2001
Sutrisno Budiharto
dari ceritanet.com