Oleh: Yoga Ps | Senin, 16 Agustus 2010 | 11:00
Tahukah Anda jika bangsa dilahirkan dari rahim sastra? Karena Kita, berawal dari kata. Dan kata, berubah menjadi Kita…
.
Konsep bangsa dan sastra sebenarnya menawarkan satu hal yang sama: imajinasi. Ya, Anda tidak salah membaca. Imajinasi yang liar dan utopis. Sebuah bangsa tak lebih dari cita-cita. Sebuah bangsa bagaikan karya prosa. Ia tak pernah selesai. Selalu ditulis. Berganti penulis.
.
Siapa bisa membayangkan, ditanah yang kita tinggali, dapat lahir sebuah “bangsa” bernama Indonesia? Bagaimana mungkin Indonesia lahir ditempat yang sama dengan Hindia Belanda, Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Samudra Pasai, dan ratusan kerajaan lainnya?
.
Karena sebuah bangsa sesungguhnya tak pernah ada. Yang ada hanyalah konsep cita-cita tentang sebuah bangsa. Karena bangsa, tak lebih dari komunitas imajiner belaka. Ini kata Benedict Anderson dalam magnum opusnya, Imagined Community.
.
“Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka”. (hal 8)
.
Konsep Indonesia, tak lebih dan tak kurang hanyalah “khayalan” kita, para penduduk Indonesia. Indonesia lahir dari imajinasi tentang ‘melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut serta dalam perdamaian dunia’.
.
Pada tahun 1926, Soekarno muda pernah menulis:
“Dalam tahun 1882 Ernest Renan telah membuka pendapatnya tentang paham “bangsa” itu. “Bangsa” itu…. ada suatu nyawa, suatu azas-akal, yang terjadi dari dua hal: pertama-tama rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu. Bukannya jenis ras, bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya persamaan tubuh, bukannya pula batas-batas negeri yang menjadikan “bangsa” itu.”
.
Tampaknya Soekarno muda sadar, sebuah Bangsa bukanlah sesuatu yang an sich jatuh dari langit. Bangsa perlu dibentuk. Ia perlu dibangun. Dipukuk. Ditegakkan. Didirikan. Soekarno sadar, sebuah bangsa tidak akan menjadi sebuah bangsa jika tidak memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa.
.
Yang menarik adalah peran sastra dalam pembentukan imajinasi tentang bangsa.
.
Kata
Sejarah adalah buku tentang kemanusiaan yang ditulis dengan tinta air mata dan darah. Dan revolusi pengetahuan cetak dalam bentuk buku telah mengubah jalannya sejarah. Sekitar 40 tahun setelah terbit Alkitab cetakan Gutenberg (penemu mesin cetak modern) terbit lebih dari 20.000.000 jilid barang cetakan diproduksi di Eropa. Antara tahun 1500 sampai 1600 telah dicetak 150 juta sampai 200 juta. (Febre and Martin, The Coming of Book. Hal 186).
.
Teknologi percetakan yang melakukan perkawinan dengan kapitalisme telah menciptakan kantong-kantong pengetahuan. Buku bertemu sumbu imajiner lainnya: suratkabar. Dua sumbu pejuang kata ini, pada akhirnya mampu meledakkan sebuah bom dengan nama bangsa. Disaat kepercayaan masyarakat terorganisasi secara ilmiah disekitar raja, ratu dan mereka yang mendapat mandat kosmologis.
.
Bahasa tulis melahirkan kebenaran ontologis. Bahasa cetak membentangkan 3 landasan:
1. Menciptakan ajang komunikasi terunifikasi. Dengan bahasa cetak, setelah dicomblangi tinta dan kertas, mereka lebih memahami kata orang lain. Mereka mulai menyadari adanya mereka yang tinggal ditempat lain.
2. Kapitalisme cetak memberi kepastian baru pada bahasa, yang dalam jangka panjang membantu ide besar tentang bangsa. Buku mampu bereproduksi selama-lamanya.
3. Menciptakan “bahasa kekuasaan”. Bahasa formal.
.
Bangsa, sebagai konsep abstrak imajiner membutuhkan medium transformasi dan distribusi. Nation, tak lebih dan tak kurang hanyalah sebuah gagasan besar. Grand theory. Dan bahasa tertulis mampu melakukan serangan terhadap gagasan tentang kekuasaan yang sebelumnya berkutat di gereja dan kerajaan.
.
Amerika, juga lahir dari kata. Buku Common Sense yang terbit 10 januari 1776 dari Thomas Paine memanggil Amerika untuk bangkit berperang memperjuangkan kemerdekaannya.
“karena tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan kecuali ledakan… maka oleh sebab itu, demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian itu.. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mempersatukan kita.”
.
Kita
Pada 1816 Jose Joaquin Fernandez de Lizardi menulis novel El Periquillo Sarniento (si kakatua yang nakal). Sebuah kritik atas penjajahan di Spanyol yang penuh dengan kebodohan, takhayul dan korupsi. Tentang pemerintah Spanyol di meksiko yang mendorong, menumbuhkan, dan menyuburkan parasitisme dan sifat pemalas.
.
Pada 1887, Jose Rizal, pejuang Filiphina, menulis Noli Me Tangere, sebuah novel pertama yang ditulis oleh seorang Indio. Novel ini bercerita “tentang suatu makan malam yang digunjingkan oleh ratusan orang tak bernama, tak saling mengenal, dan hidup dibagian berlainan di kota manila”. Berkat novel inilah masyarakat mulai sadar tentang adanya “kita” yang saling tak mengenal tapi hidup secara komunal.
.
Cerpen-cerpen Indonesia zaman pra kemerdekaan menunjukkan adanya kebencian terhadap penjajah. Silahkan baca Pieter Elberveld (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), karya Tio lo Soei. Bercerita tentang keinginan memberontak seorang Raden Jawa di Jacatra (ejaan lama Jakarta). Meskipun gagal dan akhirnya dibunuh.
.
Atau roman Tjerita Njai Dasima oleh G. Francis. Nyai Dasima yang rela bercerai dengan suaminya yang baik hati, Edward W, karena tuannya bukan orang Islam. Nyai Dasima dihasut oleh Ma Boejoeng untuk menikah dengan Samioen. Meski Samioen hanya mengejar harta Dasima dan membunuhnya (dua cerpen ini saya baca dari Toer:2003).
.
Belum ada kata “Indonesia” dikarya-karya itu. Tapi sudah ada perasaan ketertindasan, kemarahan, dan keinginan untuk mengusir penjajahan. Bumbu-bumbu awal lahirnya persatuan.
.
Cenotaph
Kita tidak pernah tahu siapa nama kondektur kereta api didepan kita. Siapa petani di Banten. Siapa juru tulis rendahan di Bukittinggi. Tapi kita bertemu dalam sebuah kesadaran. Tentang kebutuhan adanya suatu persatuan.
.
Dari buku sastra semuanya bermula. Sastra mampu menjadi penghubung sirkuit-sirkuit personal menjadi sebuah rangkaian yang komunal. Sastra mampu menjadi jembatan antar waktu. Antar jarak. Antar masa. Sastra menjadi sarana komunikasi massa.
.
Sastra telah membawa kita ke lanskap imajiner. Sastra mampu menyadarkan kita tentang “KITA”. Sekumpulan orang yang tak saling mengenal, hidup berjauhan, tapi sesungguhnya satu penderitaan.
.
“Fiksi meresap diam-diam secara berkesinambungan ke dalam realitas, menciptakan keyakinan yang menakjubkan akan adanya komunitas penuh dengan orang-orang tak dikenal, yang merupakan landasan resmi bangsa-bangsa modern” (Anderson:2003).
.
Bagi Anda yang senang menulis sastra, baik cerita fiksi maupun puisi, maka yakinlah, karya Anda akan menjadi cenotaph yang abadi.
http://estonhasiant.wordpress.com/2008/11/20/kebahagiaan-sejati/
http://estonhasiant.wordpress.com/2008/11/20/kebahagiaan-sejati/
Cenotaph: makam prajurit yang jasadnya tak ditemukan lagi
Daftar Pustaka
Anderson, Benedict. 2003. Imagined Community: Komunitas-komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist Press
Downs, B. Robert. 1959. Buku-buku Jang Merobah Dunia. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta
Soekarno. 2005. Dibawah Bendera Revolusi. Jakarta: Yayasan Bung Karno
Toer, Pramoedya A. 2003. Tempoe Doeloe; Antologi Sastra Pra-Indonesia. Jakarta: Lentera Dipantara