RSS

Memo

Remember When They Forget It
Dec 02
Permalink

Kesekian-kali kau memintaku membaca sajak kesukaanmu dari Sapadi Djoko Damono itu nduk, tak jua bosan, kau bilang, inilah yang terbaik dari yang pernah kau dengar

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

— pudakonline
Permalink

Jika Indonesia hari ini mencari keadilan, ia akan pulang esok dengan kaki pincang, saya mengutip telengas Hobbess, Hukum diciptakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, bukan oleh mereka yang memiliki kebenaran, outoritas, non veritas facit legem, apalagi yang kita punya, angkat gelasmu, mari bersulang untuk generasi… negeri masa depan, selamat datang Gayus, putra terbaik negeri, kami tahu, kau tak terlahir sendiri

— pudakonline
Permalink

Entah kenapa dengan perempuan yang terlahir dengan nama Shakira Isabel Mebarak Ripoll, perempuan yang tak biasa, philanthropy Lebanon dengan Vibrato yang kuat, dan setelah semua discography yang saya dengar, barangkali ia satu-satunya perempuan yang menghapus batas antara yang Arab dan latin lewat Ojos Asi, atau, say…a hanya laki-laki yang mengharuskan Antonio de la Rua untuk berbagi

— pudakonline
Permalink

Que te la pongo y no lo sentiras!”, sastra dunia ciptaan penerjemah, tak sekali dua saya mengiyakan, alih bahasa serampangan menjadikan kalimat kehilangan makna, seperti lyrics Garibaldi itu, saya membayangkan seorang priyayi yang menikmati ketela pohon bakar bersama nonik-nonik di alun-alun kota, saya keliru, kalima…t itu mempunyai konotasi seksual nakal, “saya akan memasukkan phallus(ekor depan laki-laki) padamu!

— pudakonline
Permalink

Entah kenapa kabut sisa dini hari enggan digantikan matahari pagi, barangkali karena hari ini adalah hari jadimu nduk, di pagi pertigapuluhan tahun yang lalu jelujur riwayat hidupmu di mulai, bahagia, sedih, letih yang mengarat dan penat yang mengerkah telah melengkapi hidupmu sebagai tetirah, selamat nduk, maafkan l…aki-lakimu yang tak pernah bersih menyeka getirnya hidup dari setiap langkahmu

— pudakonline
Permalink

Karena pahlawan hanya hadir di November, mereka absen di sebelas bulan yang lain, barangkali karena itulah kita merenung, dianjurkan sejenak untuk hening, sejenak tak pernah berarti seluruh, seperti sebuah ceremonial sewaktu dibangku sekolah yang dihelat dengan tergesa-gesa, kita mahfum, bukankah yang mampu dilakukan… oleh bangsa pecundang hanyalah mengenang?

— pudakonline
Permalink

Poeme sur le desastre de Lisbonne, Voltaire menulis sajak marah ketika lisabon di 1755 ditempa tsunami terkuat dalam sejarah, saya tak tahu seberapa marah Voltaire ketika menyaksikan Indonesia di 2010, siapa yang studi banding dan siapa dalam pengungsian, Lisbonne est abîmée, et l‘on danse à Paris (Lisabon dalam pui…ng, orang-orang berdansa di paris), begitu Voltaire, dalam sajak yang sama dengan kalimat satir

— pudakonline
Oct 30
Permalink

Tentang Sastra dan Sepotong Prosa Bernama Bangsa

Oleh: Yoga Ps | Senin, 16 Agustus 2010 | 11:00

Tahukah Anda jika bangsa dilahirkan dari rahim sastra? Karena Kita, berawal dari kata. Dan kata, berubah menjadi Kita…

.

Konsep bangsa dan sastra sebenarnya menawarkan satu hal yang sama: imajinasi. Ya, Anda tidak salah membaca. Imajinasi yang liar dan utopis. Sebuah bangsa tak lebih dari cita-cita. Sebuah bangsa bagaikan karya prosa. Ia tak pernah selesai. Selalu ditulis. Berganti penulis.

.

Siapa bisa membayangkan, ditanah yang kita tinggali, dapat lahir sebuah “bangsa” bernama Indonesia? Bagaimana mungkin Indonesia lahir ditempat yang sama dengan Hindia Belanda, Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Samudra Pasai, dan ratusan kerajaan lainnya?

.

Karena sebuah bangsa sesungguhnya tak pernah ada. Yang ada hanyalah konsep cita-cita tentang sebuah bangsa. Karena bangsa, tak lebih dari komunitas imajiner belaka. Ini kata Benedict Anderson dalam magnum opusnya, Imagined Community.

.

“Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka”. (hal 8)

.

Konsep Indonesia, tak lebih dan tak kurang hanyalah “khayalan” kita, para penduduk Indonesia. Indonesia lahir dari imajinasi tentang ‘melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut serta dalam perdamaian dunia’.

.

Pada tahun 1926, Soekarno muda pernah menulis:

“Dalam tahun 1882 Ernest Renan telah membuka pendapatnya tentang paham “bangsa” itu. “Bangsa” itu…. ada suatu nyawa, suatu azas-akal, yang terjadi dari dua hal: pertama-tama rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat; kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu. Bukannya jenis ras, bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya persamaan tubuh, bukannya pula batas-batas negeri yang menjadikan “bangsa” itu.”

.

Tampaknya Soekarno muda sadar, sebuah Bangsa bukanlah sesuatu yang an sich jatuh dari langit. Bangsa perlu dibentuk. Ia perlu dibangun. Dipukuk. Ditegakkan. Didirikan. Soekarno sadar, sebuah bangsa tidak akan menjadi sebuah bangsa jika tidak memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa.

.

Yang menarik adalah peran sastra dalam pembentukan imajinasi tentang bangsa.

.

Kata

Sejarah adalah buku tentang kemanusiaan yang ditulis dengan tinta air mata dan darah. Dan revolusi pengetahuan cetak dalam bentuk buku telah mengubah jalannya sejarah. Sekitar 40 tahun setelah terbit Alkitab cetakan Gutenberg (penemu mesin cetak modern) terbit lebih dari 20.000.000 jilid barang cetakan diproduksi di Eropa. Antara tahun 1500 sampai 1600 telah dicetak 150 juta sampai 200 juta. (Febre and Martin, The Coming of Book. Hal 186).

.

Teknologi percetakan yang melakukan perkawinan dengan kapitalisme telah menciptakan kantong-kantong pengetahuan. Buku bertemu sumbu imajiner lainnya: suratkabar. Dua sumbu pejuang kata ini, pada akhirnya mampu meledakkan sebuah bom dengan nama bangsa. Disaat kepercayaan masyarakat terorganisasi secara ilmiah disekitar raja, ratu dan mereka yang mendapat mandat kosmologis.

.

Bahasa tulis melahirkan kebenaran ontologis. Bahasa cetak membentangkan 3 landasan:

1. Menciptakan ajang komunikasi terunifikasi. Dengan bahasa cetak, setelah dicomblangi tinta dan kertas, mereka lebih memahami kata orang lain. Mereka mulai menyadari adanya mereka yang tinggal ditempat lain.

2. Kapitalisme cetak memberi kepastian baru pada bahasa, yang dalam jangka panjang membantu ide besar tentang bangsa. Buku mampu bereproduksi selama-lamanya.

3. Menciptakan “bahasa kekuasaan”. Bahasa formal.

.

Bangsa, sebagai konsep abstrak imajiner membutuhkan medium transformasi dan distribusi. Nation, tak lebih dan tak kurang hanyalah sebuah gagasan besar. Grand theory. Dan bahasa tertulis mampu melakukan serangan terhadap gagasan tentang kekuasaan yang sebelumnya berkutat di gereja dan kerajaan.

.

Amerika, juga lahir dari kata. Buku Common Sense yang terbit 10 januari 1776 dari Thomas Paine memanggil Amerika untuk bangkit berperang memperjuangkan kemerdekaannya.

“karena tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan kecuali ledakan… maka oleh sebab itu, demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian itu.. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mempersatukan kita.”

.

Kita

Pada 1816 Jose Joaquin Fernandez de Lizardi menulis novel El Periquillo Sarniento (si kakatua yang nakal). Sebuah kritik atas penjajahan di Spanyol yang penuh dengan kebodohan, takhayul dan korupsi. Tentang pemerintah Spanyol di meksiko yang mendorong, menumbuhkan, dan menyuburkan parasitisme dan sifat pemalas.

.

Pada 1887, Jose Rizal, pejuang Filiphina, menulis Noli Me Tangere, sebuah novel pertama yang ditulis oleh seorang Indio. Novel ini bercerita “tentang suatu makan malam yang digunjingkan oleh ratusan orang tak bernama, tak saling mengenal, dan hidup dibagian berlainan di kota manila”. Berkat novel inilah masyarakat mulai sadar tentang adanya “kita” yang saling tak mengenal tapi hidup secara komunal.

.

Cerpen-cerpen Indonesia zaman pra kemerdekaan menunjukkan adanya kebencian terhadap penjajah. Silahkan baca Pieter Elberveld (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), karya Tio lo Soei. Bercerita tentang keinginan memberontak seorang Raden Jawa di Jacatra (ejaan lama Jakarta). Meskipun gagal dan akhirnya dibunuh.

.

Atau roman Tjerita Njai Dasima oleh G. Francis. Nyai Dasima yang rela bercerai dengan suaminya yang baik hati, Edward W, karena tuannya bukan orang Islam. Nyai Dasima dihasut oleh Ma Boejoeng untuk menikah dengan Samioen. Meski Samioen hanya mengejar harta Dasima dan membunuhnya (dua cerpen ini saya baca dari Toer:2003).

.

Belum ada kata “Indonesia” dikarya-karya itu. Tapi sudah ada perasaan ketertindasan, kemarahan, dan keinginan untuk mengusir penjajahan. Bumbu-bumbu awal lahirnya persatuan.

.

Cenotaph

Kita tidak pernah tahu siapa nama kondektur kereta api didepan kita. Siapa petani di Banten. Siapa juru tulis rendahan di Bukittinggi. Tapi kita bertemu dalam sebuah kesadaran. Tentang kebutuhan adanya suatu persatuan.

.

Dari buku sastra semuanya bermula. Sastra mampu menjadi penghubung sirkuit-sirkuit personal menjadi sebuah rangkaian yang komunal. Sastra mampu menjadi jembatan antar waktu. Antar jarak. Antar masa. Sastra menjadi sarana komunikasi massa.

.

Sastra telah membawa kita ke lanskap imajiner. Sastra mampu menyadarkan kita tentang “KITA”. Sekumpulan orang yang tak saling mengenal, hidup berjauhan, tapi sesungguhnya satu penderitaan.

.

“Fiksi meresap diam-diam secara berkesinambungan ke dalam realitas, menciptakan keyakinan yang menakjubkan akan adanya komunitas penuh dengan orang-orang tak dikenal, yang merupakan landasan resmi bangsa-bangsa modern” (Anderson:2003).

.

Bagi Anda yang senang menulis sastra, baik cerita fiksi maupun puisi, maka yakinlah, karya Anda akan menjadi cenotaph yang abadi.
http://estonhasiant.wordpress.com/2008/11/20/kebahagiaan-sejati/

http://estonhasiant.wordpress.com/2008/11/20/kebahagiaan-sejati/

Cenotaph: makam prajurit yang jasadnya tak ditemukan lagi

Daftar Pustaka

Anderson, Benedict. 2003. Imagined Community: Komunitas-komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist Press

Downs, B. Robert. 1959. Buku-buku Jang Merobah Dunia. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta

Soekarno. 2005. Dibawah Bendera Revolusi. Jakarta: Yayasan Bung Karno

Toer, Pramoedya A. 2003. Tempoe Doeloe; Antologi Sastra Pra-Indonesia. Jakarta: Lentera Dipantara

Permalink

Dari Muhammad Rasulullah Saw kepada Mu’adz bin Jabal

Assalamualaika,

Maka memanjatkan puji kepada Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia sendiri. Amma ba’du. Adapun sesudah ini, maka semoga Allah membesarkan pahalamu, dan memberimu kesabaran, dan memberi kami dan kamu rasa syukur.

Kemudian dari itu bahwa jiwa, harta, dan anak-anak kita semua itu pemberian Allah yang menyenangkan hati dan pinjamanNya yang dititipkan, kami bersenang-senang dengan semua itu sampai kepada masa yang ditentukan dan akan ditarik kembali pada waktu yang ditentukan.

Kemudian Allah mewajibkan kita bersyukur jika diberi dan sabar jika diuji, dan putramu itu berasal dari pemberian Allah yang menyenangkan dan pinjamannya yang dititipkan, Allah telah memuaskan engkau dengan kesenangan dan kini diambil oleh Allah dengan jaminan pahala yang besar jika engkau sabar dan ikhlas.

Karena itu, wahai Mu’adz, jangan sampai duka hatimu menghilangkan pahalamu sehingga kau akan menyesali apa yang terlepas dari tanganmu dan andaikan engkau mengetahui pahala musibahmu, niscaya akan mengetahui bahwa musibah itu sedikit (dibanding pahala bila bersabar). Dan ketahuilah bahwa dukacita ini tidak dapat mengembalikan orang yang telah mati dan tidak bisa mengurangi kesedihan karena itu hilangkan susahmu dengan apa (pahala/anugerah) yang akan turun padamu, seakan-akan sudah turun.

Wassalam ‘

(Dikutip dari Tanbihul Ghafilin I).

Oct 29
Permalink

Mulat

Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrukebi