RSS

Memo

Remember When They Forget It
Feb 24
Permalink

Menyusuri kota Jancukarta Ngadikere!”,kata kawan dari Yogya semasa dulu, “serasa menyusuri kota tua yang mencoba dusta pada usia, membuat orang-orang seperti kita menjadi kere permanen!”. Saya membenarkannya kemarin, streaptease tanpa koreografer, minuman beralkohol, perempuan berdada padat berpantat penuh, “Batavia tanpa perempuan, serasa rumah tanpa kakus kang!” begitu kalimat terakhirnya sejauh yang saya ingat

— pudakonline
Permalink

Teman saya itu bilang, bahwa ia telah mencintai perempuan yang berbeda keyakinan, ia bersumpah untuk perempuan itu, “Jika agamamu menjadikanmu berada di neraka, dan agamaku menjadikanku masuk dalam surga, aku akan mencari dan menemanimu dalam panasnya api neraka!”, Cinta buta?, meneketehe!, tanya saja cupid, anak aneh Aphrodite dan Ares yang konon katanya kemana-mana selalu bawa anak panah (asmara)

— pudakonline
Permalink

Jika maut adalah realita bagi yang hidup, ia datang tidak dengan wajah kejam, barangkali ramah tapi justru kita gagal mengenalinya, kadang memberi isyarat meski tak selalu dapat ditangkap. Maut tak sepenuhnya berniat meringkus yang hidup, tak seluruhnya merampas, ada yang ditinggalkan, senarai kenangan, sepenggal karakter, sekaligus sederet ujaran, ia terus memanasi ingatan bagi yang hidup disetiap in memoriam

— pudakonline
Permalink

Die Religion … ist das Opium des Volkes!”. Saya hanya mengutip aforia Karl Marx yang cukup terkenal itu ketika kekerasan dan kebrutalan antar umat beragama secara ajeg terulang, jangan-jangan aforia Marx itu benar, lalu ia memutuskan jalan lain, jalan yang tak biasa bagi sebagian Indonesia yang religius, “dan orang atheis” seperti kata Pram, “justru adalah orang yang paling banyak memikirkan Tuhan

— pudakonline
Feb 23
Permalink

Menulis Buku, Meluruskan Sejarah

”Menyebarkan fakta dan gagasan melalui buku, majalah, dan surat kabar adalah salah satu cara terkuat untuk belajar tentang kebenaran mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Kita harus tahu kebenaran, dan kebenaran akan membuat kita bebas.”

Gertrude Hartman dalam kata pengantar bukunya, Builders of the Old World, yang terbit tahun 1959

Feb 01
Permalink

Hanya perlu alasan sederhana mengapa kau begitu mencintai hujan dan menikmatinya dari balik kaca jendela nduk!, karena hujan membawa pesan dari surga, ia datang membuat tanah basah ber-aroma, terkadang ia hadir santun dengan memberi tanda, tak jarang pula ia hadir dengan tiba-tiba. Dengar suara rintik dan rinciknya, ia menjadi perlu kita dengar selain suara hiruk pikuk kehidupan, begitu katamu lirih suatu ketika

— pudakonline
Permalink

Ketika keajaiban tak datang di tengah lapangan hijau sepanjang sembilan puluh menit itu semestinya membangkitkan kesadaran, bukan doa sekian juta dari segala penjuru mata angin yang salah, keyakinan sampeyan seharusnya meneguhkan, karena Tuhan tak akan hadir bersama orang-orang korup yang duduk di kursi kehormatan

— pudakonline
Permalink

Apakah Indonesia mampu mengalahkan Malaysia?, tugas berat!, tapi ijinkan saya membuatnya menjadi lebih berat dengan mengutip kalimat tajam Ernesto Che Guevara, It’s not just a simple game, It’s a weapon of the revolution. Pada taraf tertentu, timnas harus mengarahkan senjata itu ke diri sendiri, tepat ke arah jidat Nurdin yang terlanjur terkutuk, dan sejumlah anak bengal Bakrie penghuni PSSI yang tak tahu diri

— Police: Dead Guy Might Have Had Nothing to Do With Ronni Chasen Slaying
Permalink

Tragedi itu bisa hadir di tengah lapangan, sembilan puluh menit adalah pertaruhan, di sana kekuatan dipetakan, strategi diciptakan, segala kemungkinan diperhitungkan. Dan lantai harapan terkadang sama licinnya dengan lantai kehidupan, sepakbola tak sekedar urusan menang kalah, kebanggaan menjadi Indonesia tak lagi bergantung pada otak, melainkan pada kaki yang saling gaprak, dan Nasionalisme tengah menjadi taruhan

— pudakonline
Permalink

Sadumuk bathuk, sanyari bumi, bakal ditohi tumekan pati, barangkali sesotya itu tak diajarkan Soekotjo dan Siti Habibah kepada anak semata wayangnya, menantu Sarwo Edhi Wibowo itu hendak menghapus ke-alpa-annya dengan tanda jasa lain kepada Ngayogyakarto Hadiningrat, mungkin saja Alfred Adler salah, tak semua anak tunggal punya pengaruh besar dalam pembentukan kepribadiannya. Ia tak dibentuk oleh Jawa dengan benar

— pudakonline