Romeo & Juliet
tak perlu kita memaknai romeo dan juliet, karena sesungguhnya kita tak pernah tahu, apa mereka pernah berpeluk dalam ranjang atau tidak sama sekali sekalipun dalam kuburnya.
tak perlu kita memaknai romeo dan juliet, karena sesungguhnya kita tak pernah tahu, apa mereka pernah berpeluk dalam ranjang atau tidak sama sekali sekalipun dalam kuburnya.
Aha… Inilah kisah, Centhini, sebuah karya 4200 halaman, 12 jilid, 722 tembang dan 2000 bait itu, bisa jadi ini kisah hidup kekinian yang padat, yang tak selalu lurus dan menggairahkan, inilah hidup yang jenaka sekaligus ganjil dan sehari-hari. Diskripsi persetubuhan dalam puisi, sebuah kisah paling primordial yang akan mengantar kita ke semua kisah kehidupan, sebuah kisah cinta paling klasik.
Saya sadar, ia adalah sebuah pusat, pada kenyataanya mungkin adalah poros, dan ketakutan terbesar adalah kehilangan, karena apa yang tumbuh sangat bergantung padanya. Tapi ada sesuatu yang ditinggalkan, sebuah ajaran tentang keadilan sesudah mati, dan itu yang mestinya diperjuangkan, dan perjuangan yang sesungguhnya memang tak mengenal kata final
Simply living as a simply it self
Bom dan terorisme pada akhirnya adalah sebuah pertunjukan, seni untuk seni, seni menghilangkan jejak, seni melukai, seni yang paling menyayat hati, sekaligus ia sebuah seni yang kehilangan jati diri, karenanya ia membutuhkan panggung pertunjukan, ia butuh penonton dan ia butuh perhatian. Ia mungkin adalah sebuah seni dalam wujudnya yang lain.
Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah
Beku, mungkin inilah batas antara cinta dan kematian, seorang muslim yang jatuh cinta dengan seorang katholik, batas sekularitas saling bertemu dan bersentuhan, Cinta dengan segala kerumitan, cinta di pinggir kematian, cinta yang berteriak di antara dua musim.
Dan kini, setelah bertahun-tahun menceritakan dunia baru, yang konon dengan salah kaprah disebut telah ditemukan oleh orang-orang Eropa padahal kaum Indian menempatinya selama berabad-abad, ijinkanlah penulis agung ini, Gabito, menulis dirinya sendiri. Tentang rasa laparnya, tentang perkenalannya dengan sastra, juga dengan gadis dua belas tahun yang kelak menjadi isteri setianya, Mercedes.
Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar