RSS

Memo

Remember When They Forget It
Jun 26
Permalink

Karena engkaulah nduk, hikayat ini kembali aku tuturkan, karena tidak semua dusta akan menjadi dosa, tak setiap tanya butuh jawab dan tak setiap tangis adalah derita. Wajibnya kau tahu nduk, ini hidup yang sebisa mungkin dirayakan, sedapat mungkin disyukuri, meski hidup adalah serentetan ketidak-pastian dalam setiap lipatan usia. Happy anniversary nduk!, aku berdoa untuk setiap subuh dalam hidupmu

— pudakonline
Jun 17
Permalink

Imajinasi saya barangkali terlalu berlebihan, saya tahu, membayangkan dua Korea bertemu dalam final piala dunia 2010 lebih terdengar sebagai sebuah kutukan, tapi bolehlah saya berpanjang angan, tak soal siapa yang menang dan yang kalah, saya sedikit risau, akankah sepakbola menjadi awal malapetaka dunia?, aih… suli…t membayangkan!, El futbol a Sol y Sombra, barangkali akan menjadi sebuah buku serial yang panjang

— pudakonline
Permalink

Tak sekali dua kita saling pandang dalam diam nduk!, “karena kita bising dengan suara-suara diluar, kita bising dengan gosip murahan, dan terkadang kita juga terlalu bising dengan suara kita sendiri”, begitu katamu suatu ketika, “karena dalam diam, aku mendengar detak jantung, kegundahan yang penuh, kegelisahan yang… sempurna, dan juga segenap hasrat yang tertahankan”, demikian kau melengkapi kalimatmu ketika itu

— pudakonline
Jun 06
Permalink

Maka, politik yang tidak mendatangi mereka dengan tangan keadilan dapat dikatakan hanya politik para petualang bayaran. Tidak lebih, dan tidak kurang

— Karlina Supelli
May 03
Permalink

Setiap peringatan hari buruh, saya mengingat sebuah nama, ia adalah pertanda, bahwa perlawan kaum proletar terhadap kapitalis yang lentur itu adalah sebuah ke-sia-sia-an, perlawan tak lagi nampak sebagai perlawanan, ia mirip sebuah tragedi, dan tragedi adalah sebuah kisah sedih. Tragedi butuh darah sekaligus nyawa untuk menambah kisah sedihnya, Marsinah, nama yang mengingatkan, bahwa kemakmuran itu masih memihak

— pudakonline
Mar 23
Permalink

: “Hujan menampakkan tanda-tanda bakal menjauh nduk!, tak ada kesetiaan hujan pada musim, dan kita mesti menyimpan kerinduan pada hujan sampai musim depan, hujan yang seringkali datang dan pergi tergesa-gesa, mungkin ia membawa pesan dari surga, tentang kebahagiaan atau malah kepedihan hidup yang kian hitam dan berjelaga, kita merindu hujan nduk!, yang terkadang malu-malu membawa kabar tentang hidup yang mengejutkan”

— pudakonline
Mar 15
Permalink

Masihkah adap kesantunan itu diajarkan ditengah derasnya modernitas jaman, bukankah ia telah larut ketika kisah “Kajian sejarah empat puluh tujuh hamba” itu kembali di narasikan ulang, dari seorang tokoh nista paling aib yang mencoba dikukuhkan dalam sejarah, laki-laki jepang yang runyam bernama Kôtsuké no Suké, guru tata krama yang kehilangan unggah-ungguh lengkap dengan kekurang-ajaran, saya mengabadikan ulang

— pudakonline
Mar 11
Permalink

para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah

— José Saramago
Mar 07
Permalink

No Title

Bertahun-tahun kuraut kata hingga langsing dan runcing.

Bertahun-tahun kugurat halaman buku, mabuk dan mengigau sepanjang waktu.

Bertahun-tahun mengitari panggung, menari seperti kurcaci lupa diri. Mewarnai gugusan peristiwa dengan sejumlah cinta dan lara. Bertahun-tahun membangun jembatan, antara satu bukit dan bukit berikutnya, dengan kata- kata.

Bertahun-tahun jumawa di atas kuda kata-kata, berlari kencang tanpa menoleh lagi.

Lalu, pada sebuah tarikh muda, engkau lahir dari sunyi perigi bermata air kata, jernih dan bercahaya. Lalu engkau bangkit dari abu unggun yang menyala semalam suntuk membakar kayu kata-kata. Mata beningmu membaca semua kata dari setiap benang sari dan udara yang mempersinggahkan pada putik, menjadikannya tunas buah. Lalu engkau memeras perih kata dari tangkai zaitun, menyulingnya menjadi tetes-tetes harum dalam bejana. Tak ada jejak pada kata-kata dari tempatmu pernah berguru.

Ingin kuhapus kata dari seluruh mantra yang melekat di mulutku.

Ingin kuhapus kata dari jubah dan terompah yang pernah kuajak mengembara.

Ingin kuhapus kata dari mimpi dan nyanyian yang bertahun-tahun memenuhi tidurku.

Ingin kembali hening, menghilang dari suara, bersembunyi di balik cadar riuh rendah kata-kata.

Pura-pura tak pernah mengenal kata yang bertahun-tahun meriwayatkan rahasiaku sebagai seorang kelana.

Dengan sepasang mata, kau berkata-kata. Mata sebening kaca, kaca sebening kata.

Dalam matamu, kata selalu berkaca. Mencari bayang-bayang simetri, sudut tersembunyi, runcing dan bening.

Pendar cahaya matamu menyusun kata-kata yang berkaca-kaca. Kata-kata yang tidak menaruh dendam pada kaca, tempat mata memandang. Kaca yang senantiasa memantulkan kata-kata ke dalam mata.

Aku percaya: hanya dari bibir dan lesung pipimu, tersenyum setiap kata

Dan matamu adalah genangan kata-kata sebening kaca

Permalink

Penyair buruk (belum matang) melakukan peniruan, penyair baik (matang) melakukan pencurian.” Penulis yang baik mencuri gaya dan berbagai strategi literer dari penulis-penulis lain yang ia kagumi dan mengolahnya menjadi miliknya sendiri. Dan pencuri yang piawai tidak akan pernah memamerkan barang curiannya

— T.S. Eliot