para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah
para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah
Bertahun-tahun kuraut kata hingga langsing dan runcing.
Bertahun-tahun kugurat halaman buku, mabuk dan mengigau sepanjang waktu.
Bertahun-tahun mengitari panggung, menari seperti kurcaci lupa diri. Mewarnai gugusan peristiwa dengan sejumlah cinta dan lara. Bertahun-tahun membangun jembatan, antara satu bukit dan bukit berikutnya, dengan kata- kata.
Bertahun-tahun jumawa di atas kuda kata-kata, berlari kencang tanpa menoleh lagi.
Lalu, pada sebuah tarikh muda, engkau lahir dari sunyi perigi bermata air kata, jernih dan bercahaya. Lalu engkau bangkit dari abu unggun yang menyala semalam suntuk membakar kayu kata-kata. Mata beningmu membaca semua kata dari setiap benang sari dan udara yang mempersinggahkan pada putik, menjadikannya tunas buah. Lalu engkau memeras perih kata dari tangkai zaitun, menyulingnya menjadi tetes-tetes harum dalam bejana. Tak ada jejak pada kata-kata dari tempatmu pernah berguru.
Ingin kuhapus kata dari seluruh mantra yang melekat di mulutku.
Ingin kuhapus kata dari jubah dan terompah yang pernah kuajak mengembara.
Ingin kuhapus kata dari mimpi dan nyanyian yang bertahun-tahun memenuhi tidurku.
Ingin kembali hening, menghilang dari suara, bersembunyi di balik cadar riuh rendah kata-kata.
Pura-pura tak pernah mengenal kata yang bertahun-tahun meriwayatkan rahasiaku sebagai seorang kelana.
Dengan sepasang mata, kau berkata-kata. Mata sebening kaca, kaca sebening kata.
Dalam matamu, kata selalu berkaca. Mencari bayang-bayang simetri, sudut tersembunyi, runcing dan bening.
Pendar cahaya matamu menyusun kata-kata yang berkaca-kaca. Kata-kata yang tidak menaruh dendam pada kaca, tempat mata memandang. Kaca yang senantiasa memantulkan kata-kata ke dalam mata.
Aku percaya: hanya dari bibir dan lesung pipimu, tersenyum setiap kata
Dan matamu adalah genangan kata-kata sebening kaca
Penyair buruk (belum matang) melakukan peniruan, penyair baik (matang) melakukan pencurian.” Penulis yang baik mencuri gaya dan berbagai strategi literer dari penulis-penulis lain yang ia kagumi dan mengolahnya menjadi miliknya sendiri. Dan pencuri yang piawai tidak akan pernah memamerkan barang curiannya
“Kapitalisme!”, kata Marx dalam Das Kapital, ” Kapitalisme-lah yang memperlakukan pekerja sebagai komoditas dan bahan mentah, buruh itu seperti perkakas, agar ia produktif mengeruk uang, maka buruh perlu dikuasai dan dieksploitasi”, Marx memberikan tanda yang diabaikan, dan seperti pertanda yang lain yang dianggap liyan menurut teori dissapative structure-nya Prigogine, ia halal untuk dimusnahkan
Baiklah Tuan!, sejarah negeri kami memang ditulis dari kisah perselingkuhan raja-raja, rintihan paksa para selir muda, dan klenik pusaka. Demikianlah Monsieur!, sejarah negeri kami memang diisi oleh keserakahan, ambisi dan warna-warni sakit hati, hiruk pikuk aib penguasa itu tabu untuk diungkap. Kami membaca sejarah negeri kami sendiri dalam bau apak keringat dan rasa mual yang menggairahkan
Acapkali kita dibuat bahagia oleh hal-hal yang bagi mereka sepele dan sederhana nduk!, Menikmati hujan jatuh sore hari dari balik kaca teras, berbatang rokok dengan lingkaran kuning disepertiga bagiannya, gorengan pisang bikinanmu yang sebenarnya terlalu gosong itu, secangkir kopi tubruk, bukan coffee latte atau Macc…hiato d‘asti di kafe Tazza D‘oro, begitulah kita mengakrabi kesederhanaan dan berdamai dengan hidup
Saya tidak pernah menjadi orang beriman, tetapi setelah melihat orang-orang Katolik Ceska dikejar-kejar semasa teror rezim Stalin, saya merasakan solidaritas mendalam terhadap mereka. Apa yang memisahkan kami, keyakinan pada Tuhan, hanya menempati urutan kedua ketimbang apa yang menyatukan kami. Di Praha, mereka menggantung kaum sosialis dan pastor. Maka, lahirlah persaudaraan tiang gantungan
Di negeri tempat kita berpijak ini, ketika masa tak segera menemukan angka, La Galigo telah lahir, sebuah epik 300.000 baris dengan lakon yang rumit, terpanjang melebihi homerus atau epos Mahabrata yang hanya 200.000 baris, Indonesia dulu sekali telah melahirkan sebuah metrum sastra 6000 halaman yang mencengangkan
Diam tak selamanya emas”, begitu kata Mario Teguh suatu ketika, tapi ia lupa, ia tak sungguh merenungi kalimat GM yang bertenaga itu, “Agama pada mulanya adalah diam, Budha di bawah pohon bodhi gaya, Musa di gurun sinai, dan Muhammad di gua Hira’”, ough… Mario!, kalimatmu tak lagi teguh, dan salam-mu tak lagi super
Adakah cinta dan sex itu telah menyelamatkan dunia?, mari mengintip begawan Wisrawa dan Sukesi dalam epos mahabarata, mereka bercinta penuh nafsu liar di sebuah taman sunyi penuh bunga, Sst.. jangan berisik!, karena mereka adalah Batara Guru dan istrinya dewi Uma, bercinta meminjam raga sekaligus kelamin, rahasia sastra Jendra memang tak terungkap, tapi setidaknya kita (para pengintip) telah mengungkap percintaan para dewa